Home Product Knowledge Sejarah Perkembangan Sepatu Di Dunia

Sejarah Perkembangan Sepatu Di Dunia

1
SHARE
Sejarah Sepatu yang Mencengangkan
Sejarah Perkembangan Sepatu Di Dunia

Hai, Bos. Hai, Mos. Kali ini Bandros akan membahas tentang sejarah. Loh, apa hubungannya dengan Bandros? Yang pasti ilmu bermanfaat harus disebarkan sepanjang masa, seperti kata pepatah tokoh dunia mengatakan “Ilmu tanpa akal ibarat seperti memiliki sepatu tanpa kaki. Dan akal tanpa ilmu ibarat seperti memiliki kaki tanpa sepatu.” ~ Ali bin Abi Thalib

Ngomong-ngomong soal sepatu, menurut Bobos dan Momos keberadaan sepatu penting atau tidak?

Selayaknya udara dan mengkonsumsi makanan, sepatu juga merupakan kebutuhan yang manusia butuhkan. Sepatu digunakan untuk pelindung kaki, biasanya terbuat dari kulit hewan atau kain. Dalam perkembangannya sepatu menjadi trend fashion untuk mempercantik pemakai dan menunjukan status sosialnya.

Sejak kapan manusia mengenal sepatu?

Seperti dilansir BBC Culture. dengan judul Ten shoes that changed the world, oleh Alastair Sooke. BBC Culture menyiapkan sejumlah sepatu yang dianggap berperan penting dalam sejarah perubahan dunia. Berikut jenis sepatu dan sejarahnya:

Sandal Emas (Sekitar 30 SM – 300 M)

Sendal emas dari zaman Mesir Romawi
Sendal emas dari zaman Mesir Romawi

Apa jadinya kalau emas yang lazimnya digunakan untuk perhiasan dibuat menjadi aksesoris untuk sepatu. Foto di atas memperlihatkan betapa unik dan mewahnya sepatu pada zaman peninggalan Mesir Romawi. Dalam sejarahnya pada masa tersebut sepatu  dikatakan simbol status yang kuat. Sepatu dari zaman Mesir romawi ini dipercantik daun emas nyaris murni, sepatu ini adalah benda yang langsing, canggih dan cantik. Dengan semakin mahal dan uniknya sepatu mahal peninggalan zaman kuno ini banyak menyisakan ketangguhan dari pemakainya. Sering kali pemakainya merasa sakit yang luar biasa untuk memakai sepatu mewah ini.

Mojari Emas (1790-1820)

Foto Mojari Emas (1790-1820) disimpan di Bata Shoe Museum
Foto Mojari Emas (1790-1820) disimpan di Bata Shoe Museum

Sepatu ini seperti sepatu dalam cerita dongeng Aladin.  Sepatu terbuat dari kulit, seluruhnya dibordir emas, sementara bagian lainnya dihiasi desain emas dengan batu berharga termasuk berlian, zamrud dan delima. Menurut Bata Shoe Museum pemiliknya kemungkinan Nizam Hyderabad dan sepatu ini seperti belum pernah terpakai. Dari bentuknya yang luar biasa seakan-akan menunjukan kekuasaan yang tak terbatas.

Sepatu Ballet Merah (1948)

 

Sepatu dalam film The Red Shoes 1948
Sepatu dalam film The Red Shoes 1948

Selain mengacu kepada kekuasaan, sepatu juga dapat menjadi obyek fantasi. Di zaman modern ada cerita Cinderella menghiasi cerita dongeng anak sebelum tidur yang memakai sepatu kaca dan berubah derajatnya dari seorang biasa menjadi seorang puteri kerajaan. Atau versi lain dari cerita Cinderella di zaman dahulu tentang seorang penguasa Mesir, gadis budak Yunani dan ‘pengujian ukuran sandal’, dapat ditelusuri sampai ke abad pertama Masehi. Sepatu balet merah di atas terbuat dari kain satin sutra dan kulit. Sepatu ini dibuat untuk Moira Shearer yang membintangi film The Red Shoes buatan Michael Powell dan Emeric Pressburger pada tahun 1948. Film ini didasarkan dongeng Hans Christian Andersen.

Poulaine (1375-1400)

Poulaine (1375-1400) berada di Museum Of London
Poulaine (1375-1400) berada di Museum Of London

Selama Abad Pertengahan, penggemar fashion Eropa tidak terlalu memperhatikan hak sepatu. Mereka lebih terobsesi pada sepatu sempit dengan tumit yang panjang dan runcing, seperti sepatu di foto ini yang terbuat dari kulit. Sepatu ini kemungkinan milik seseorang dari kelas menengah karena para bangsawan akan memakai jenis yang lebih tidak praktis. Kegemaran akan sepatu seperti ini melanda Eropa pada akhir abad ke-14. Agar bentuknya tidak berubah, ujungnya diisi lumut. Sepatu ini kemudian dilipat ke atas agar pemakainya dapat berjalan. Seberapa bagus dan cantiknya sepatu ini dapat membuat sakit pemakainya.

Bakiak Mandi (Abad ke-19)

Sendal dari abad ke-16 terdapat di museum V&A’s, London
Sendal dari abad ke-16 terdapat di museum V&A’s, London

Dimulai pada abad ke-16, pria dan wanita Kerajaan Ottoman mengunjungi hammam atau tempat mandi umum. Mereka biasanya memakai bakiak mandi atau “qabâqib” dalam bahasa Arab.Kunjungan ke hammam adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, dan pada mulanya bakiak mandi dibuat agar pemakainya dapat berjalan di atas lantai yang kotor, panas dan licin.Tetapi barang ini kemudian menjadi bagian fashion, seperti sepasang “qabâqib” kayu tinggi yang digunakan di Mesir pada ke-19 ini. Dengan hiasan kerang dan logam, bakiak setinggi 28,5cm ini menjadi sepatu tertinggi pada pameran terbaru museum V&A’s, London yang berjudul Shoes: Pleasure and Pain. Bakiak ini harus dapat memastikan pemakainya yang kaya raya, terlihat lebih tinggi dibandingkan pemakai hammam yang lain.

Sepatu Gillie Sangat Tinggi (1993)

Sepatu dari perancang mode Vivienne Westwood
Sepatu dari perancang mode Vivienne Westwood

Terdapat satu pasang sepatu berhak tinggi yang lebih terkenal dibandingkan lainnya. Sepatu Gillie Sangat Tinggi perancang mode Inggris Vivienne Westwood yang terbuat dari kulit asli dan kulit buaya buatan berwarna biru dengan hak setinggi 21 cm. Pada tahun 1993, supermodel Naomi Campbell memakainya di panggung Westwood di Paris Fashion Week. Sepatu ini begitu tinggi sampai membuatnya jatuh di panggung. Ini adalah momen bersejarah fashion, dan mengingatkan tentang seberapa jauh wanita akan berusaha agar terlihat bergaya.

Oxfords Brogue (1989)

Sepatu buatan Manolo Blahnik mencapai harga £3.000 atau Rp60 juta.
Sepatu buatan Manolo Blahnik mencapai harga £3.000 atau Rp60 juta.

Semua penggemar film seri TV Sex and the City akan mengetahui sepatu haute-couture buatan Manolo Blahnik sangat mahal harganya. Demikian juga dengan sepatu pria buatan tangan. Sepatu Oxford dengan rancangan sederhana yang dibuat untuk satu orang saja dapat mencapai harga £3.000 atau Rp60 juta. Sepasang Brogue dari pembuat kemeja dan sepatu New & Lingwood ini menggunakan kulit sapi Rusia dari kapal Denmark yang karang di Plymouth Sound, lepas pantai Cornwall, Inggris di tahun 1786. Meskipun kulitnya berumur ratusan tahun, barang ini masih bisa dipakai karena dibungkus minyak kulit.

Sepatu Bot Pergelangan Kaki Berbulu (1943)

Bot pendek dibuat pada Perang Dunia Kedua oleh penduduk London.
Bot pendek dibuat pada Perang Dunia Kedua oleh penduduk London.

Kadang-kadang dimungkinkan untuk mendapatkan mode kelas atas dengan pendekatan sederhana. Bot pendek ini dibuat pada Perang Dunia Kedua oleh penduduk London yang memadukan mantel bulu dan dua mantel biasa, satu dari kulit merah, yang lainnya dari bulu kucing liar. Bahan-bahan ini dibawa ke pembuat sepatu di Kensington untuk dibuatkan sepasang sepatu baru. Hasilnya menarik perhatian terutama saat perang dimana banyak barang terbatas ketersediaannya. Tetapi Helen Persson, kurator pameran Shoes: Pleasure and Pain mengatakan sepatu ini, “Terlihat terlalu menarik perhatian, agak terlalu tinggi.”.

Sepasang Geta (1880-1900)

Di Jepang, wanita oiran, mengenakan geta tradisional untuk dilihat pria.
Di Jepang, wanita oiran, mengenakan geta tradisional untuk dilihat pria.

Sepatu adalah senjata yang penting saat berusaha memikat hati orang lain. PSK pada lukisan Manet, Olympia (1863), misalnya hanya mengenakan pita hitam di leher dan satu selop berhak tinggi di kaki kirinya. Di masa feodalisme Jepang, wanita penggemar kelas tinggi, oiran, mengenakan geta tradisional seperti di foto. Geta ini terbuat dari kayu dan beludru, setinggi lebih 20 cm. Para PSK pemakai geta berjalan perlahan dengan menyeret kakinya agar lebih mudah dilihat pria.

Sandal Bertrami Imelda Marcos (1987-92)

Imelda Marcos memilik sepatu dihiasi bordir hitam dan batu permata
Imelda Marcos memilik sepatu dihiasi bordir hitam dan batu permata

Pameran tentang sepatu harus menyebut Imelda Marcos, janda mantan Presiden Filipina Ferdinand Marcos, yang dkenal sebagai seseorang yang gila sepatu. Lahir pada tahun 1929, Imelda diperkirakan berhasil mengumpulkan sekitar 3.000 pasang sepatu, termasuk sandal berhak tinggi yang dihiasi bordir hitam dan batu permata ini.

Pada zaman dahulu, kemegahan dan kekuasaan bisa dilihat dari sepatu yang dipakainya. Tapi kenikmatan dan kecantikan sepatu itu terlepas dari kesakitan yang menjadi pemakainya dikarenakan bahan atau cara pemakaiannya yang ekstrim.

Semoga Bobos dan Momos makin bijak dengan belajar dari sejarah yaa…

Jika Bobos dan Momos suka dengan artikel ini, boleh komentar dikolom bawah.

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here